Harga Emas
Harga emas dunia kembali menunjukkan pergerakan positif pada awal perdagangan Januari 2026. Logam mulia ini menguat signifikan seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah kembali memanasnya risiko geopolitik global. Kondisi tersebut membuat harga emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diburu investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional.
Pada perdagangan terkini, emas dengan pasangan XAU/USD berada dalam fase penguatan tren bullish. Kenaikan ini didukung oleh kombinasi faktor teknikal yang solid serta sentimen fundamental global yang saling menguatkan. Investor global kembali memposisikan emas sebagai instrumen lindung nilai utama untuk melindungi portofolio mereka dari gejolak pasar.
Harga Emas Menguat di Tengah Perdagangan Awal Tahun
Memasuki awal tahun 2026, pergerakan relatif agresif meski volume perdagangan masih cenderung tipis akibat libur Tahun Baru di sejumlah negara Asia seperti Jepang dan Tiongkok. Namun, minimnya likuiditas justru dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan aksi beli, sehingga mendorong harga emas naik tajam.
Pada akhir pekan lalu, emas mencatatkan kenaikan harian sekitar 1,75 persen dan bergerak mendekati area USD 4.400 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi hingga kisaran USD 4.274 pada awal pekan. Pemulihan cepat ini menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mereda dan minat beli kembali mendominasi pasar.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyebutkan bahwa penguatan tersebut menandai kembalinya kepercayaan investor terhadap prospek emas dalam jangka pendek hingga menengah.
“Penguatan ini menandai kembalinya minat beli yang cukup agresif, terutama setelah tekanan jual mulai mereda,” ujar Andy dalam analisis hariannya, Senin (5/1/2026).
Analisis Teknikal: Tren Bullish Semakin Menguat
Dari sisi teknikal, struktur pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam jalur bullish yang sehat. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan sinyal penguatan yang konsisten. Harga emas mampu bertahan di atas area support penting, menandakan buyer masih menguasai pergerakan pasar.
Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga emas mampu mempertahankan posisi di atas area support USD 4.355, maka peluang untuk melanjutkan kenaikan masih terbuka lebar.
“Jika tekanan bullish mampu dipertahankan, emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area USD 4.466 sebagai target kenaikan terdekat,” jelasnya.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta untuk mewaspadai potensi koreksi jangka pendek. Apabila terjadi tekanan jual, area USD 4.355 diperkirakan menjadi level penurunan terdekat yang perlu diperhatikan sebagai zona pantulan harga.

Sentimen Geopolitik Jadi Katalis Utama Harga Emas
Dari sisi fundamental, faktor geopolitik kembali menjadi katalis utama yang mendorong penguatan harga emas. Ketegangan global meningkat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, tanpa persetujuan Kongres.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Amerika Latin. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat juga disebut menyerukan opsi militer berskala besar terhadap Venezuela, memperburuk sentimen risiko global.
Situasi semakin panas setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan pengaruhnya di sektor minyak untuk menekan perubahan politik di Venezuela. Pernyataan ini meningkatkan ketidakpastian pasar energi dan memperbesar potensi konflik geopolitik lanjutan.
Secara historis, kondisi geopolitik yang memanas selalu berdampak positif terhadap harga emas. Investor global cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen lindung nilai seperti emas untuk menghindari volatilitas pasar saham dan mata uang.
Kebijakan The Fed Turut Menopang Harga Emas
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut menopang pergerakan harga emas. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang penurunan suku bunga seiring tren inflasi yang mulai melandai.
Meskipun terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran pelonggaran, pasar menilai kebijakan suku bunga yang lebih rendah tetap menjadi skenario utama dalam beberapa bulan ke depan.
“Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi logam mulia,” jelas Andy Nugraha.
Kondisi ini membuat harga emas tetap menarik di mata investor, terutama di tengah ketidakpastian arah ekonomi global.
Data Ekonomi AS Jadi Faktor Penentu Jangka Pendek
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP) periode Desember. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menguatkan dolar AS dan memberikan tekanan sementara terhadap harga emas.
Namun, jika data ekonomi menunjukkan perlambatan, maka peluang kenaikan harga emas justru akan semakin terbuka. Pasar saat ini cenderung mengambil sikap wait and see sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed di tahun 2026.
Prospek Harga Emas Masih Positif
Secara keseluruhan, kombinasi meningkatnya risiko geopolitik global, ekspektasi penurunan suku bunga AS, serta ketidakpastian ekonomi internasional masih menjaga prospek harga emas tetap positif dalam waktu dekat. Dinamika konflik Rusia-Ukraina, ketegangan Timur Tengah, hingga sikap agresif Amerika Serikat terhadap Iran juga menjadi faktor pendukung tambahan.
Dengan latar belakang tersebut, harga emas diperkirakan masih akan menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai di tengah kondisi global yang penuh tantangan.