IHSG Ditutup Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ditutup menguat) pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di hari terakhir tahun 2025. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya IHSG sempat bergerak di zona merah hampir sepanjang sesi perdagangan sebelum akhirnya berbalik arah menjelang penutupan pasar.
Pada akhir perdagangan Selasa (30/12/2025), IHSG ditutup di level 8.646,93, menguat 0,03 persen atau 2,68 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski penguatan tergolong tipis, capaian ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
IHSG Ditutup Menguat Didukung Aksi Beli Saham Asing
Penguatan IHSG pada akhir tahun ini tidak lepas dari peran investor asing. Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat adanya aksi beli bersih (net buy) asing di pasar reguler yang menjadi salah satu faktor utama penopang pergerakan indeks.
โIHSG berhasil ditutup menguat jelang akhir tahun ini, didukung aksi beli asing. Net buy asing di pasar reguler tercatat sebesar Rp1,03 triliun,โ ujar Tim Pilarmas dalam keterangannya.
Masuknya dana asing menjadi sentimen positif tersendiri, mengingat sepanjang 2025 pasar saham Indonesia sempat menghadapi tekanan akibat volatilitas global, arah kebijakan suku bunga, serta ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Pergerakan Saham dan Sektor di Penutupan Akhir Tahun
Dari sisi pergerakan saham, perdagangan hari terakhir 2025 menunjukkan dinamika yang cukup berimbang. Tercatat:
- 346 saham menguat
- 317 saham melemah
- 146 saham stagnan
Sektor barang sekunder mencatatkan penguatan paling signifikan dengan kenaikan sebesar 3,03 persen, menunjukkan minat investor terhadap saham-saham berbasis konsumsi dan industri pendukung.
Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi sektor dengan tekanan terdalam, turun 1,53 persen pada penutupan perdagangan. Pelemahan ini diduga dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah kinerja sektor tersebut relatif kuat di periode sebelumnya.
Aktivitas Perdagangan IHSG di Akhir 2025
Dari sisi aktivitas transaksi, pasar saham Indonesia menunjukkan likuiditas yang tetap terjaga hingga akhir tahun. Sepanjang perdagangan hari terakhir 2025:
- Volume perdagangan mencapai 39,54 miliar saham
- Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,60 juta kali
- Nilai transaksi mencapai Rp20,61 triliun
- Kapitalisasi pasar BEI menembus Rp15.878,56 triliun
Angka tersebut mencerminkan tingginya partisipasi pelaku pasar, baik investor ritel maupun institusi, meskipun berada di tengah periode libur akhir tahun.
Sentimen Global Pengaruhi Pergerakan IHSG
Meski IHSG ditutup menguat, pergerakan pasar saham Indonesia tetap dipengaruhi oleh dinamika global. Bursa saham Asia pada hari yang sama ditutup bervariasi, seiring sikap investor yang cenderung berhati-hati (wait and see).
Pelaku pasar global tengah mencermati beberapa faktor penting, antara lain:
- Risalah rapat The Fed bulan Desember
- Arah kebijakan moneter Amerika Serikat pada 2026
- Data ekonomi utama dari Tiongkok, khususnya sektor manufaktur
- Ketegangan geopolitik di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur
Risalah rapat The Fed menjadi sorotan karena pasar mencoba membaca peluang pelonggaran kebijakan moneter pada tahun depan. Harapan akan penurunan suku bunga global berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham emerging market, termasuk Indonesia.
Data Manufaktur Tiongkok Jadi Perhatian Investor
Selain kebijakan moneter, investor juga menantikan rilis data aktivitas manufaktur Tiongkok. Sebelumnya, sektor manufaktur Negeri Tirai Bambu masih berada di zona kontraksi akibat melemahnya permintaan global dan tekanan ekspor.
โPasar cenderung menunggu rilis aktivitas manufaktur Tiongkok. Sebelumnya aktivitas pabrik melemah akibat turunnya permintaan,โ jelas Tim Pilarmas.
Kondisi ini turut memengaruhi sentimen ekspor dan persaingan harga di pasar global, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja emiten-emiten berorientasi ekspor di kawasan Asia.
Prospek IHSG Menuju 2026
Penutupan IHSG di zona hijau pada akhir 2025 memberikan optimisme awal bagi pasar saham Indonesia memasuki tahun 2026. Meski tantangan global masih membayangi, sejumlah faktor dinilai dapat menjadi penopang pasar ke depan, antara lain:
- Stabilitas makroekonomi domestik
- Konsumsi rumah tangga yang relatif kuat
- Potensi pelonggaran kebijakan moneter global
- Arus modal asing yang mulai kembali masuk
Namun demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati risiko eksternal dan menerapkan strategi investasi yang selektif serta berbasis fundamental.
Kesimpulan
IHSG ditutup menguat pada hari terakhir perdagangan 2025 di level 8.646,93, didukung oleh aksi beli asing dan kinerja positif sektor tertentu. Meski penguatan relatif terbatas, capaian ini mencerminkan ketahanan pasar saham Indonesia di tengah tekanan global.
Memasuki 2026, pasar saham Indonesia masih memiliki peluang untuk tumbuh, dengan catatan pelaku pasar tetap waspada terhadap dinamika global dan perubahan kebijakan moneter dunia.