Khofifah
Normalisasi Kanal Sungai Jadi Solusi Jangka Panjang Banjir Lamongan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil langkah strategis untuk mengatasi persoalan banjir tahunan di Kabupaten Lamongan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menginstruksikan percepatan normalisasi kanal sungai sepanjang 9 kilometer sebagai solusi jangka panjang guna menekan risiko banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.
Instruksi tersebut disampaikan langsung saat Khofifah meninjau lokasi banjir di Desa Laladan, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Selain memastikan kondisi warga terdampak, Gubernur juga menyalurkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
Khofifah Tinjau Langsung Lokasi Banjir di Lamongan
Dalam kunjungannya ke Desa Laladan, Khofifah menyoroti karakteristik wilayah yang memiliki banyak anak sungai. Aliran-aliran sungai tersebut bermuara ke Bengawan Jero dan selanjutnya mengarah ke wilayah Kabupaten Gresik sebelum menuju laut.
Menurut Khofifah, kondisi ini membuat debit air meningkat drastis saat curah hujan tinggi, sehingga sungai tidak mampu menampung volume air dan menyebabkan banjir meluas ke permukiman warga.
โNormalisasi kanal sungai sepanjang 9 kilometer menuju laut menjadi kebutuhan mendesak agar banjir tidak terus berulang setiap tahun,โ ujar Khofifah.
Normalisasi Kanal Sungai Sepanjang 9 Km Menuju Laut
Program normalisasi kanal sungai yang diinstruksikan Khofifah difokuskan pada jalur aliran air dari Bengawan Jero hingga ke laut. Langkah ini dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk mempercepat pembuangan air saat debit sungai meningkat.
Khofifah menjelaskan bahwa saat ini terdapat enam pintu air dengan kapasitas total sekitar 840 liter per detik. Namun, tidak semua pintu air tersebut dapat dioperasikan secara optimal akibat besarnya volume air dari anak-anak sungai yang bermuara.
Kondisi tersebut membuat sistem pengendalian banjir belum berjalan maksimal, sehingga diperlukan pendekatan terpadu antara normalisasi sungai dan optimalisasi infrastruktur pengendali air.
Koordinasi dengan Kabupaten Gresik Jadi Kunci
Pelaksanaan normalisasi kanal sungai sepanjang 9 kilometer tidak dapat dilakukan secara sepihak. Khofifah menegaskan pentingnya koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Gresik, mengingat jalur kanal akan melewati wilayah perbatasan dan area pemukiman warga.
โIni harus komunikasi dengan Pemkab Gresik karena kanal akan melewati area pinggiran. Ada kekhawatiran jika aliran air justru meluap ke wilayah lain,โ jelas Khofifah.
Koordinasi lintas daerah dinilai penting agar kebijakan penanganan banjir tidak menimbulkan dampak baru di wilayah sekitar.
Optimalisasi Pintu Air Bengawan Jero
Selain normalisasi kanal, Khofifah juga menyoroti pengoperasian pintu air di kawasan Bengawan Jero. Dari enam pintu air yang tersedia, belum seluruhnya bisa difungsikan secara maksimal karena tekanan air yang sangat tinggi.
Sebagai langkah darurat, pemerintah daerah setempat telah menutup beberapa pintu air untuk mengendalikan arus dan mencegah luapan ke wilayah pemukiman yang lebih luas.
Langkah ini bersifat sementara sambil menunggu pelaksanaan normalisasi kanal sungai yang menjadi solusi utama jangka panjang.

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dari BMKG
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengingatkan masyarakat dan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Berdasarkan data BMKG Juanda, intensitas hujan di wilayah Jawa Timur diperkirakan meningkat tajam sepanjang Januari.
Peningkatan curah hujan berpotensi memperparah kondisi banjir, terutama di daerah-daerah dengan sistem drainase dan aliran sungai yang belum optimal.
โMasyarakat diminta tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir,โ imbau Khofifah.
Normalisasi Kanal Sungai untuk Perlindungan Warga
Kebijakan normalisasi kanal sungai tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada perlindungan keselamatan warga. Banjir yang terjadi setiap tahun tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat.
Dengan normalisasi kanal, diharapkan aliran air menjadi lebih lancar, risiko genangan dapat ditekan, dan aktivitas warga dapat berjalan lebih normal meski curah hujan tinggi.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Hadapi Banjir
Khofifah menegaskan bahwa penanganan banjir membutuhkan sinergi semua pihak. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga masyarakat harus memiliki peran aktif dalam menjaga lingkungan, terutama daerah aliran sungai.
Upaya normalisasi kanal sungai harus diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai serta menjaga fungsi saluran air agar tidak tersumbat.
Kesimpulan
Instruksi normalisasi kanal sungai sepanjang 9 kilometer yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi langkah strategis dalam mengatasi banjir tahunan di Lamongan. Dengan dukungan koordinasi lintas daerah, optimalisasi pintu air, serta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, pemerintah berharap banjir tidak lagi menjadi masalah berulang.
Langkah ini menunjukkan komitmen Pemprov Jawa Timur dalam menghadirkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan demi melindungi masyarakat dari dampak bencana banjir.