Momentum Optimalisasi
Awal tahun 2026 dinilai menjadi momentum strategis untuk melakukan optimalisasi perdagangan berjangka komoditi nasional. Pemerintah melihat sektor perdagangan berjangka memiliki peran penting dalam memperkuat struktur ekonomi, meningkatkan transparansi harga, serta melindungi pelaku usaha dari volatilitas pasar global.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, dalam acara Pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Menurut Roro, momentum awal tahun menjadi titik temu bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan visi dalam memperkuat peran perdagangan berjangka komoditi sebagai instrumen strategis nasional.
Perdagangan Berjangka Jadi Instrumen Hadapi Dinamika Global
Roro menegaskan bahwa perdagangan berjangka komoditi bukan sekadar aktivitas pasar, melainkan instrumen penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Melalui mekanisme perdagangan berjangka, pelaku usaha dapat melakukan lindung nilai (hedging) serta memperoleh kepastian harga yang lebih adil dan transparan.
Ia juga memaparkan bahwa kinerja perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan tren positif. Neraca perdagangan nasional tercatat konsisten mengalami surplus, yang sebagian besar disumbang oleh sektor nonmigas.
“Neraca perdagangan kita konsisten menjaga dan mengalami surplus. Mayoritas dari proporsi surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas,” ujar Roro.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, surplus neraca perdagangan Indonesia hingga Oktober 2025 tercatat mencapai 35,88 miliar dolar Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, kontribusi ekspor nonmigas mencapai 223,12 miliar dolar Amerika Serikat, menunjukkan peran signifikan sektor komoditas dalam perekonomian nasional.
Dorong Komoditas Unggulan Masuk Bursa Berjangka
Dalam kesempatan tersebut, Roro juga mendorong agar komoditas unggulan nasional semakin aktif diperdagangkan melalui bursa berjangka komoditi dalam negeri. Menurutnya, langkah ini penting untuk memperkuat pembentukan harga acuan nasional sekaligus meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Perdagangan berjangka yang sehat dan terkelola dengan baik akan menciptakan ekosistem pasar yang transparan, efisien, serta memberikan perlindungan bagi petani, produsen, dan pelaku usaha.
“Melalui perdagangan berjangka, kita bisa memperkuat fungsi lindung nilai sekaligus membentuk harga yang lebih kredibel dan dapat menjadi referensi pasar nasional,” jelasnya.
Pembukaan Perdagangan Berjangka 2026 Jadi Tonggak Industri
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Tirta Karma Senjaya, menilai pembukaan perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 sebagai tonggak penting bagi industri perdagangan berjangka nasional.
Menurut Tirta, pembukaan perdagangan tahun ini memiliki nilai historis karena dilakukan secara serentak pada tiga bursa berjangka nasional.
“Hari ini untuk pertama kalinya pembukaan perdagangan berjangka komoditi dilakukan secara serentak di tiga bursa, yaitu Bursa Berjangka Jakarta, Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia, serta Indo Bursa Karisma Berjangka,” ujar Tirta.
Ia menilai langkah tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem perdagangan berjangka yang terintegrasi, transparan, dan berdaya saing.
Peran Strategis Bursa Berjangka bagi Ekonomi Nasional
Tirta menambahkan bahwa perdagangan berjangka komoditi memiliki peran strategis dalam pembentukan harga yang transparan dan menjadi referensi pasar nasional. Dengan sistem yang terawasi dan terstandarisasi, perdagangan berjangka dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar serta mendorong partisipasi yang lebih luas.
Kolaborasi antara pemerintah, regulator, bursa, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan fungsi perdagangan berjangka bagi perekonomian nasional.
“Perdagangan berjangka bukan hanya soal transaksi, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi nasional yang membutuhkan sinergi semua pihak,” kata Tirta.

Harapan Pemerintah di Awal 2026
Pemerintah berharap awal 2026 menjadi titik akselerasi bagi optimalisasi perdagangan berjangka komoditi nasional. Dengan dukungan regulasi yang adaptif, pengawasan yang kuat, serta partisipasi aktif pelaku usaha, perdagangan berjangka diharapkan mampu memberikan nilai tambah nyata bagi perekonomian Indonesia.
Optimalisasi perdagangan berjangka juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama komoditas di kawasan regional maupun global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan geopolitik dan dinamika pasar dunia.